Upaya Para Operator Seluler Menutup Celah Blankspot Di daerah

Xl meresmikan Pemancar 3G

Menggelar jaringan telekomunikasi hingga ke daerah pelosok Tanah Air adalah bagian dari kewajiban operator seluler. Wilayah ber-value rendah juga ikut di sasar.

Seperti yang terjadi di Muara Sipongi. Wilayah yang masuk Kabupaten Mandailing Natal (Sumatera Utara ini merupakan kawasan yang belum tercover telekomunikasi. Wajar kalau pemerintah melalui Dirjen Postel memberikan apresiasi tinggi kepada operator selular yang mau membangun infrastruktur di wilayah yang value komersialnya rendah.

PT. Excelcomindo Pratama, secara resmi pertengahan bulan lalu menggenapi jumlah BTS-nya menjadi 15.300. BTS yang terletak di wilayah Muara Sipongi -area bencana longsor Desember 2005 lalu- secara resmi dibuka oleh Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar bersama Bupati Mandailing Natal, Amru Daulay, dan Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi. Menurut Hasnul, dibangunnya infrastruktur di wilayah ini merupakan bentuk dukungan perusahaan yang dipimpinnya dalam upaya membuka keterisolasian telekomunikasi.

Kabupaten Mandailing Natal yang berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa dengan luas wilayah 6 ribu km persegi ini sangat krusial sebagai penghubung Sumatera Barat dan Sumatera Utara. “Setidaknya ka

mi bisa melakukan telekomunikasi dan juga melihat wajah si penelepon dengan teknologi 3G dari XL,” kata Amru dalam sambutannya.

Dijelaskan oleh Basuki, membangun infrastruktur telekomunikasi di wilayah pelosok merupakan kewajiban para operator. Menurutnya investasi yang ditanamkan oleh XL di wilayah ini lebih bersifat non komersial karena resiko komersialnya sangat tinggi. “Di sini kan value komersialnya rendah, namun sosialnya yang tinggi,’ katanya. “Saya selaku pemerintah patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dibangunnya infrastruktur baru, apalagi di wilayah perbatasan ini,’ tambahnya.

COVER BLANKSPOT

Pembangunan infrastruktur berupa BTS di wilayah Muara Sipongi ini setidaknya menghapus wilayah non sinyal alias blankspotXL. Hingga saat ini jumlah pelanggan XL di wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Utara masing-masing sebesar 200 ribu dan 750 ribu pelanggan. Keduanya di cover oleh 187 BTS untuk Sumbar dan 600 BTS di wilayah Sumut.

Daya pancar sinyal dari BTS ini mencapai 2 km. Artinya hampir seluruh wilayah Muara Sipongi hingga perbatasan bisa tercover oleh jaringan XL. “Antara Kecamatan Muara Sipongi hingga Kecamatan Bonjol sudah bisa kita cover semua,” kata Hasnul menjelaskan. Pembangunan BTS di wilayah pelosok ini merupakan bagian dari pembangunan telekomunikasi di pedesaan yang kini masuk dalam program USO (universal Service obligation).

“Saya antusias sekali menyambut pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaar seperti ini,” kata Basuki. la menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung secars penuh usaha operator dalam membangun telekomunikasi di pedesaan. “Saya usahakan untuk datang bila ada operator yang melakukan hal seperti ini,” tambahnya.

Basuki juga mengatakan bahwa setelah XL membangun infrastruktur di perbatasan ini, segera akan disusul oleh operator lainnya yakni Indosat untuk wilayah Kalimantan. Dengan makin gencarnya pembangunan infrastruktur di wilayah pelosok dan pedesaan setidaknya mendukung program USO pemerintah. Paling tidak jumlah desa yang masuk perogram USO akan berkurang dengan sendirinya

 

Please follow and like us:
error